1. Dampak positif dan
negative penggunaan internet
Saat ini internet
merupakan media yang hampir banyak diminati oleh semua orang dari berbagai
kalangan usia. Selain mudah digunakan dan mudah untuk mencari informasi atau
tugas. Dalam hal ini terdapat dampak positif dan negative penggunaan internet
yang berlebihan membuat kita menjadi ketergantungan pada internet. Seseorang
yang kecanduan internet akan cenderung menunjukan emosi yang negative di dalam
kehidupan sehari-harinya, jumlah pengguna internet meningkat dari tahun ke
tahun. Menurut data Asosiasi penyelenggara data internet di Indonesia, pada
2005 pengguna internet di Indonesia mencapai 2.12 juta dan pada tahun 2006
meningkat hingga mencapai hamper 2,4 juta . Pada tahun 2011, Indonesia
menduduki peringkat ke-8 pengguna internet terbanyak di dunia dan pengguna
internet di Indonesia mencapai 39 juta orang.
A). Internet memberikan
dampak positif maupun negative bagi penggunanya.
Dampak positif dari internet digolongkan menjadi
empat kategori antara lain :
Sebagai media komunikasi, merupakan fungsi internet
yang palingbanyak digunakan dimana setiap pengguna internet dapat berkomunikasi
dengan pengguna lainnya di seluruh dunia.Media
pertukaran data dengan menggunakan email, newsgroup, ftp dan www (world wide
web – jaringan situs-situs web) para pengguna internet diseluruh dunia dapat
saling bertukar informasi dengan cepat dan murah. Media mencari informasi atau data,
perkembangan internet yang pesat, menjadikan www sebagai salah satu sumber
informasi yang penting dan akurat.Untuk manfaat
komunikasi
B).
Dampak negative dari internet adalah membuat tidak sedikit orang menjadi sangat
bergantung pada internet sehingga menjadi kecanduan terhadap internet,
pornografi, penyebaran virus secara tak terkendali, spyware & SPAM,
hadirnya situs yang bersifat provokasi, adu domba, fitnah, terjadinya
overload-nya informasi,
Pendidikan bermedia
internet adalah pengembangan kemampuan kritis dan kreatif anak muda.
Sementara
itu, sesuai dengan deklarasi UNESCO mengenai pendidikan media (UNESCO: 2006),
terdapat beberapa konsep mengenai pendidikan media. Konsep tersebut bertujuan
untuk mendorong pendidikan media secara komperensif mulai tingkat prasekolah
sampai perguruan tinggi, pendidikan orang dewasa yang bertujuan untuk
mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap, kesadaran kritis. Pendidikan
semacam ini juga untuk melahirkan kompetensi yang lebih besar di kalangan
pengguna media cetak, elektronik, bagi masyarakat
Kita diharapkan mampu muntuk mengontrol penggunaan
internet, yaitu dengan mengurangi intensitas penggunaan internet dalam
melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Seperti hlnya mengurangi intensitas
penggunaan instant messangging dalam berkomunikasi dengan teman,keluarga, dan
lainnya, serta lebih menggunakan komunikasi face to face dalam menjalin relasi
dengan orang lain. Orang tua juga diharapkan mampu mengoptimalkan peran orang
tua dalam mengawasi dan mengurangi intensitas penggunaan internet yang
dilakukan oleh anak. Ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas
komunikasi intrapersonal anatar orang tua dengan anak tanpa menggunakan media
internet.
Referensi:
Jurnal 1: Ahmad
,budi setiawan, penanggulangan dampak negative akses internet di pondok pesantren melalui program internet sehat.
Kementrian komunikasi dan informatika,jakarta
Jurnal 2: Novrita,
ade putri,Subjevtive well being mahasiswa yang menggunakan internet secara
berlebihan. Jurnal ilmiah mahasiswa universitas Surabaya vol.2 no.1 (2013)
Caplan, S.
(2002). Problematic internet use and psycholocial well being. Development of a
theory based cognitive-bahavioral measurement instrument . Computers in Human Behavior,
18, 553-575
2. Internet addiction
Menurut
Young (2007), internet addiction dapat disebut juga dengan compulsive internet
use atau pathological internet use. Internet addiction adalah ketidak mampuan
seseorang untuk mengontrol penggunaan internetnya, yang dapat menyebabkan
terjadinya masalah psikologis, social, dan pekerjaan pada kehidupan individu .
Individu dapat menggunakan internet lebuh dari 20 jam dalam satu minggunya .Factor-faktor
yang mempengaruhi internet education digolongkan menjadi 2 yaitu factor eksternal
dan internal . Factor eksternal meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sisial
dan budaya. Factor internal adalah kepribadian, control diri, minat, motif,
pengetahuan dan usia. Menurut young factor psikologis merupakan penyebab
seseorang mengalami internet education.menurut Young dampak yang dihasilkan
dari penggunaan internet yang berlebih antara lain kehilangan pekerjaan atau
kesempatan dalam meraih karir serta pendidikan yang lebih baik, kehilangan
kesempatan untuk menjalin relasi dengan lingkungan sekitar, tidak menjalin
hubungan yang baik dengan keluarga, dan penggunaan internet sebagai media untuk
menghindari masalah yang mungkin sedang dihadapi. Apabila dikaitkan dengan
dampak-dampak tersebut seseorang yang mengalami internet education cennderung
seringkali menunjukan emosi yang negative seperti cemas, sedih, depresi, dan
lain-lain.
Hasil
penelitian kraut et akl (1998) menunjukan bahwa seseorang yang lebih banyak
menghabiskan waktunya untuk menggunakan internet seringkali merasakan depresi
dan kesepian. Hasil penelitian Stepanikova et al (2010) menunjukan bahwa
semakin lama individu menggunakan internet, semakin besar kemungkinan individu
tidak puas akan kehidupannya. Sesuai dengan ungkapan oleh Caplan (2002)
individu yang menggunakan internet secara berlebih menganggap internet adalah
cara untuk menghindar dari psykological problems yang sedang dialaminya seperti
masalah teman, keluarga, relasi social, dan lain-lain.
Hasil
penelitian ceyhan dan gurcan (2008) menunjukan bahwa individu yang paling
banyak mengalami internet addiction adalah individu dewasa dan penggunaan
internet tersebut berdampak bagi psychological well being. Individu dewasa
masih memiliki tanggung jawab pada studinya yang berada pada jenjang perguruan
tinggi. Kandell (1998) menyebutkan bahwa jika dibandingkan dengan kelompok usia
lainnya, internet addiction adalah masalah terbesar bagi mahasiswa jauh dari
keluarga, menghabiskan waktu luang, dan menggunakan internet dengan education
reason adalah beberapa alas an meningkatkan resiko internet education pada
mahasiswa.salah satunya factor terpenting yang dapat menjelaskan mahasiswa
menggunakan internet secara berlebihan adalah dinamika psikologis dan
perkembangan mahasiswa itu sendiri yang sedang berada pada transisi dari tahap
remaja akhir menuju dewasa awal yang memiliki karakteristik antara lain :
-
Eksplorasi
jati diri
-
Ketidakstabilan
-
Focus
pada diri sendiri
-
Ambiguitas
-
Serta
terdapat berbagai kemungkinan untuk melakukan eksplorasi dan eksperimen
Karena pada masa ini individu berada pada kondisi
tidak stabil karena banyak menyerap pengalaman dan pengetahuan dari
lingkungannya.
Jenis-jenisnya adalah :
-
Cybersexual Addiction : individu yang sering mengunjungi
website khusus orang dewasa,
-
Cyber-Relationship Addiction : mengacu pada individu yang
senang mencari teman atau relasi secara online.
-
Net-compulsions:Mengacu pada perjudian online, belanja
online, dan perdagangan online.
-
Information Overload : Information overload mengacu pada
web surfing yang bersifat kompulsif.
-
Computer Addiction : Salah satu bentuk dari computer
addiction adalah bermain game komputer yang bersifat obsesif.\
untuk kita semua ,kita diharapkan mampu
mengontrolpenggunaan internetnya sehingga tidak selalu bergantung pada
internet, yang dengan mengurangi intensitas penggunaan internet dalam melakukan
kegiatan sehari-hari
Referensi :
Jurnal 1 : Novrita,
ade putri,Subjevtive well being mahasiswa yang menggunakan internet secara
berlebihan. Jurnal ilmiah mahasiswa universitas Surabaya vol.2 no.1 (2013)
Jurnal 2 :
Sistem
Pakar Diagnosa Kecanduan Menggunakan Internet (Internet Addiction) Menggunakan
Metode Certainty Factor (Oleh : Adlin Hasibuan)
Jurnal 3 : noviana dewi, hubungan antara kecanduan
internet dan kecemasan dengan insomnia pada mahasiswa yang sedang skripsi.
http://rizkenandiniati.wordpress.com/2014/10/31/pinternet-review-jurnal-tentang/
3.
Psikoterapi via internet
Seiring berjalannya waktu internet dan teknologi semakin
berkembang pesat untuk mencari terobosan baru dalam bertukar informasi. Internet
yang tadinya hanya berisi informasi sekarang juga bisa dgunakan untuk
konsultasi tanpa harus bertemu langsung. Sekarang telah dibangun aplikasi bimbingan
konseling yang berbasis internet menggunakan PHP 4.3.9 dan MySQL4.1.7. aplikasi
ini berguna untuk untuk berkomunikasi atau bekonsultasi dengan pakar atau
konselor sesuai bidangnya.
Seringkali masalah yang terjadi pada remaja berawal dari
dunia online. Internet memang baik untuk bersosialisasi tetapi dapat juga
menimbulkan masalah sosial. Konseling didunia internet dapat membantu guru
konseling untuk menginformasi pegetahuannya untuk membantu menjalankan tugasnya
sebagai guru konseling.Konseling online adalah : proses pemberian bantuan yang
dilakukan kepada seseorang yang mengalami suatu masalah untuk mendapat jalan
keluar dengan tidak lansung.
Selain itu psikoterapi via internet tidak hanya berguna
bagi kalangan orang dewasa tetapi juga bisa untuk kalangan remaja yang
mempunyai masalah. seorang klien harus mampu menjadi pendengar yang baik dalam
proses ini namun hambatan yang perlu diperhatikan dalam konseling online adalah
konseling tanpa komunikasi verbal dan petunjuk visual lainnya kecuali bila
menggunakan fasilitas kamera dan headset, namun kedua perangkat komputer harus
memilikinya (Haberstroh, et al., 2008). Kelemahan yang dapat terjadi pada
proses konseling online pada tahap tiga ini adalah mengevaluasi atas
pilihan-pilihan klien yang tepat. Hal ini merupakan hambatan yang sangat besar
dalam proses konseling. Namun perlu diingat bahwa tahap ini bila ada dianggap
perlu maka seorang klien dapat diminta untuk konseling tatap muka.
Walaupun sebenarnya online konseling merupakan hal yang
masih langka di Indonesia namun beberapa negara maju di bidang teknologi telah
memanfaatkan teknologi informasi ini dalam memberikan kemudahan akses bagi
masyarakatnya.
Referensi :
Jurnal 1: Aplikasi Bimbingan Konseling Berbasis WEB
(Oleh : Juniawan G.S.D, Agnes Nurina D.A, Raymon Bahana, Sri Mulyanti)
Jurnal 2 : Konseling
Online Sebagai Salah Satu Bentuk Pelayanan E-konseling
Jurnal 3 :
Ardi,
Z. (2013). Konseling online: sebuah pendekatan teknologi dalam pelayanan
konseling. Jurnal Konseling dan Pendidikan, 1(1), 1-5.