Kamis, 30 Juni 2016

Terapi Kelompok


Selama bertahun-tahun, terapi kelompok dipraktekan sebagai metode pilihan oleh hanya segelintir terapis khusus. Terutama karena beban kasus mereka begitu berat sehingga terapi kelompok adalah sarana satu-satunya yang bisa mereka lakukan untuk menangani beban pasiennya. Terapis lain menggunakan terapi kelompok sebagai teknik pelengkap. Bukannya melihat pilihan kedua atau bentuk pengobatan tambahan, bagaimanapun, metode kelompok kini telah mencapai visibilitas jauh lebih baik.
            Salah satu penggunaan metode formal terapi kelompok yang pertama adalah Joseph H. Pratt’s (1905), merupakan pendekatan yang inspirational yang digunakan dalam perkuliahan dan diskusi kelompok untuk membantu mangangkat semangat pasien depresi dan meningkatkan kerjasama mereka dengan rejimen medis.
Tokoh utama dalam gerakan kelompok itu J.L Moreno (1900 dan pada tahun 1925) memperkenalkan psikodrama ke amerika serikat. Moreno juga menggunakan terapi kelompok panjang.


Ada kelompok terapi berdasarkan
Ø Prinsip Psikoanalitik
Ø Prinsip terapi Gestalt
Ø Prinsip-prinsip terapi perilaku
Ø Dan jenis terapi lainnya

Pendekatan terapi kelompok yang berbeda terlihat dari asal teoritis yang berbeda dan deskripsi dari terapi kelompok yang ditulis dalam berbagai bahasa teoritis.

Sejumlah fitur lain yang patut diperhatikan menurut Budman (1996) waktu yang efektif, psikoterapi kelompok :
·      Memiliki fokus interpersonal
·      Membutuhkan pemimpin untuk secara aktif memfasilitasi terapis proses kelompok
·      Waktu yang terbatas untuk mendorong perubahan
·      Tanggung jawab pasien, penetapan tujuan, dan pemantauan kemajuan menuju tujuan
·      Menggunakan tugas pekerjaan rumah untuk mendorong perubahan
·      Memanfaatkan ringkasan sesi untuk mengikat bersamaan proses kelompok, tema berulang, dan kemajuan individu.

Pengobatan kelompok terapi tidak tampak lebih efektif dari pada bentuk-bentuk lain dari psikoterapi. Keuntungan utama dari terapi kelompok adalah bahwa hal itu lebih efisien dan lebih ekonomis, khususnya kelompok pengobatan waktu terbatas.

SUMBER : 

http://karyatulisilmiah.com/terapi-kelompok-terapi-keluarga-terapi-pasangan/

Family Therapy


Menurut Kartini Kartono dan Gulo dalam kamus psikologi, family therapy (terapi keluarga) adalah suatu bentuk terapi kelompok dimana masalah pokoknya adalah hubungan antara pasien dengan anggota-anggota keluarganya. Oleh sebab itu seluruh nggota keluarga dilibatkan dalam usaha penyembuhan.
            Terapi keluarga adalah model terapi yang bertujuan mengubah pola interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah-masalah dalam keluarga. Terapi keluarga muncul dari observasi bahwa masalah-masalah yang ada pada terapi individual mempunyai konsekuensi dan konteks sosial. Contohnya konseling yang menunjukan peningkatan selama menjalani terapi individual, bisa terganggu lagi setelah kembali pada keluarganya. Menurut teori awal dari psikopatologi, lingkungan keluarga dan interaksi orang tua dan anak adalah penyebab dari perilaku maladaptive.


Tujuan  terapi keluarga oleh para ahli dirumuskan secara berbeda, yaitu :
Ø  Bowen menegaskan bahwa tujuan terapi keluarga adalah membantu konseling (anggota keluarga) untuk mencapai individual individualis, membuat dirinya menjadi hal yang berbeda dari dari sistem keluarga.
Ø  Minuchin mengemukakan bahwa tujuan terapi keluarga adalah untuk mengubah struktur dalam keluarga dengan cara menyusun kembali kesatuan dan menyembuhkan perpecahan yang terjadi dalam suatu keluarga.


Teori keluarga didasarkan pada teori system terdiri dari 3 prinsip, yaitu :
·           Kausalitas Sirkular : peristiwa berhubungan dan saling bergantung bukan ditentukan dalam sebab satu arah efek perhubungan. Jadi, tidak ada anggota keluarga yang menjadi penyebab masalah lain, perilaku tiap anggota tergantung pada perbedaan tingkat antara satu dengan yang lainnya.
·           Ekologi : sistem hanya dapat dimengerti sebagai pola intergrasi, tidak sebagai kumpulan dari bagian komponen. Dalam sistem keluarga, perubahan perilaku salah satu anggota akan mempengaruhi yang lain.
·           Subjektivitas : tidak ada pandangan yang objektif terhadap suatu masalah, tiap anggota keluarga mempunyai persepsi sendiri dari masalah keluarga.


Teknik yang dapat digunakan oleh terapis keluarga, yaitu :
§   Pemeragaan : memperagakan ketika masalah itu muncul. Misalnya ayah dan anaknya sehingga mereka saling diam dalam bertengkar, maka terapis membujuk mereka untuk berbicara setelah itu terapis memberikan saran-sarannya dan bisa disebut dengan psikodrama. Dan komunikasi dalam keluarga paling penting.
§   Homework : mengumpulkan seluruh anggota keluarga agar saling berkomunikasi diantaranya.
§   Family sculpting : cara untuk mendekatkan diri dengan anggota keluarga yang lain dengan cara nonverbal.
§   Genograms : sebuah cara yang bermanfaat untuk mengumpulkan dan mengorganisasi informasi tentang keluarga, genogram adalah  sebuah diagram terstruktur dari sistem hubungan tiga generasi keluarga. Diagram ini sebagai roadmap dari sistem hubungan keluarga. Hal ini untuk memahami masalah dalam bentuk grafik.


Somaryati. & Sri, A. (2013). Family therapy dalam menangani pola asuh orang tua yang salah pada anak slow learner. 3(1)20-21.

Senin, 11 April 2016

Terapi Perilaku (Behavior Therapy)


Sebagai salah satu teknik psikoterapi, terapi perilaku relative masih sangat muda, baru dipergunakan sejak sekitar 30 tahun yang lalu. Menurut Lazarus (1971, 1977), terminology terapi perilaku (behavior therapy) pertama kali dipakai oleh Skinner, Solomon, Lindsley dan Richards pada tahun 1953, namun setelah itu tidak dipergunakan lagi. Pada tahun 1959, Eysenck secara terpisah menggunakan terminologi ini. Dalam kaitan dengan pengubahan perilaku (behavior modification), terdapat dua pendapat mengenai terapi perilaku. Sekelompok ahli mengatakan bahwa keduanya pada dasarnya sama saja (Kanfer & Phillips, 1969), namun kelompok lain (Lazarus, 1971) mengatakan bahwa terapi perilaku biasanya berhubungan dengan metode kondisioning yang berlawanan misalnya, desensitisasi (pengebalan) sistematik dan latihan asertif (assertive training), sedangkan terapi pengubahan perilaku menitik beratkan pada prosedur “aktif”  (operant conditioning). Didalam perkembangannya, terapi perilaku sebagai metode yang dipakai untuk mengubah perilaku atau dalam arti umumnya sebagai salah satu teknik psikoterapi.

Menurut Franks (1969) yang dikutip oleh master (1987) ada tiga hal yang sangat berpengaruh terhadap munculnya terapi perilaku, ialah:

1.      Hasil penelitian dan tulisan dari I.P Pavlov (1927, 1928) mengenai percobaan-percobaan dan hasilnya yang telah dilakukan dengan mempergunakan hewan percobaannya (anjing), yang sekarang dikenal dengan kondisioning klasik.
2.      Hasil penelitian dan tulisan E.L Thorndike mengenai proses belajar dengan hadiah yang menghasilkan hokum efek (law of effect) yang sekarang dikenal dengan conditioning aktif (operant) dan perilaku instrumental.
3.      Hasil penelitian dan tulisan J.B Watson dengan rekan-rekannya yang mengamalkan teknik dasar dari apa yang telah dilakukan oleh Pavlov, diamalkan untuk menghadapi seseorang dengan kelainan kejiwaan.dari Watson & Rayner ini dikenal percobaan klasik mengenai kondisioning operan (operant) atau kondisioning aktif. Terhadap anak bernama Albert kecil (a case of little Albert) yang ketakutan setiap kali mendengar suara keras, diperlihatkan seekor tikus sambil diperdengarkan suara keras, sehingga Albert kemudian takut setiap kali melihat tikus tersebut. Percobaan yang kemudian bervariasi, antara perangsangan yang diberikan dan jawaban yang diharapkan akan muncul, termasuk menghilangkan ketakutan karena jenis perangsangnnya lain dan dilakukan pembiasaan.


Menurut Corey (1991) terdiri dari tiga tahap :

  1.  Tahap pertama adalah kondisioning klasik pada mana perilaku yang baru, dihasilkan dari individu secara pasif.Tokoh-tokoh pada kelompok ini ialah : Science and Humand Behavior (1952); A. Lazarus terkenal dengan Behavior Therapy and Beyond (1971) dan Eysenck dengan : Behavior Therapy and the Neurosis (1962).
  2. Tahap kedua adalah tahap kondisioning aktif (operant), dimana perubahan-perubahan dilingkungan yang terjadi akibat sesuatu perilaku, bisa berfungsi sebagai penguat ulang (reinforcer) agar sesuatu perilaku bisa terus diperhatikan, sehingga kemungkinan perilaku tersebut akan diperlihatkan terus dan semakin diperkuat. Sebaliknya jika lingkungan tidak menghasilkan sesuatu penguat ulang, harapan untuk memperlihatkan kembali perilakunya berkkurang. Tokoh utama pada tahap kesua ini adalah Skinner.
  3. Tahap ketiga adalah tahap kognitif, sebagaimana diketahui bahwa munculnya terapi perilakudengan ciri-ciri khas yang bertentangan dengan pendekatan psikoanalisis, psikodinamik, mengesampingkan konsep berpikir, konsep sikap dan konsep nilai. Namun ternyata terjadi perubahanpada sekitar tahun 70-an ketika peranan berfikir (kognisi) diperlihatkan dan ikut berperan, baik dalam proses pemahaman maupun perlakuan terhadap pasien



Gunarsa, S. D. (2007). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : PT. BPK Gunung Mulia. 

Client Centered Therapy

Carl  R. Rogers mengembangkan terapi clien centered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya keterbatasan- keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Pada hakikatnya, pendekatan client centererd adalah cabang dari terapi humanistik yang menggaris bawahi tindakan mengalami klien berikut dunia subjektif dan fenomenalnya. Pendekatan client centered ini menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri.
Menurut Rogers yang dikutip oleh Gerald Corey menyebutkan bahwa:’ terapi client centered merupakan tekhnik konseling dimana yang paling berperan adalah klien sendiri, klien dibiarkan untuk menemukan solusi mereka sendiri terhadap masalah yang tengah mereka hadapi. Hal ini memberikan pengertian bahwa klien dipandang sebagai partner  dan konselor hanya sebagai pendorong dan pencipta situasi yang memungkinkan klien untuk bisa berkembang sendiri. Sedangkan menurut Prayitno dan Erman Amti  terapi client centered adalah klien diberi kesempatan mengemukakan persoalan, perasaan dan pikiran- pikirannya secara bebas.  Pendekatan ini juga mengatakan bahwa seseorang yang mempunyai masalah pada dasarnya tetap memiliki potensi dan mampu mengatasinya maslah sendiri.18 Jadi terapi client centered adalah terapi yang berpusat pada diri klien, yang mana seorang konselor hanya memberikan terapi serta mengawasi klien pada saat mendapatkan pemberian terapi tersebut agar klien dapat berkembang atau keluar dari masalah yang dihadapinya.


  • Konsep Teori Kepribadian dalam Terapi Client- Centered


Rogers sebenarnya tidak terlalu memberi perhatian kepada teori kepribadian. Baginya cara mengubah dan perihatian terhadap proses perubahan kepribadian jauh lebih penting dari pada karakteristik kepribadian itu sendiri. Namun demikian, karena dalam proses konseling selalu memperhatikan perubahan- perubahan kepribadian, maka atas dasar pengalaman klinisnya Rogers memiliki pandangan- pandangan khusus mengenai kepribadian, yang sekaligus menjadi dasar dalam menerapkan asumsi- asumsinya terhadap proses konseling. Kepribadian menurut Rogers merupakan hasil dari interaksi yang terus- menerus antara organism, self, dan medan fenomenal. Untuk memahami perkembangan kepribadian perlu dibahas tentang dinamika kepribadian sebagai berikut:

1. Kecenderungan Mengaktualisasi
  Rogers beranggapan bahwa organism manusia adalah unik dan memiliki kemampuan untuk mengarahkan, mengatur, mengontrol dirinya dan mengembangkan potensinya. 

2. Penghargaan Positif Dari Orang Lain
  Self berkembang dari interaksi yang dilakukan organism dengan realitas lingkungannya, dan hasil interaksi ini menjadi pengalaman bagi individu. Lingkungan social yang sangat berpengaruh adalah orang- orang yang bermakna baginya, seperti orang tua atau terdekat lainnya. Seseorang akan berkembang secara positif jika dalam berinteraksi itu mendapatkan penghargaan, penerimaan, dan cinta dari orang lain. 

3. Person yang Berfungsi Utuh
  Individu yang terpenuhi kekbutuhannya, yaitu memperoleh penghargaan positif tanpa syarat dan mengalami penghargaan diri, akan dapat mencapai kondisi yang kongruensi antara self dan pengalamannya, pada akhirnya dia akan dapat mencapai penyesuaian psikologis secara baik.


  • Ciri- ciri terapi Client- Centered


  Ciri- ciri konseling berpusat pada person sebagai berikut:
1. Focus utama adalah kemampuan individu memecahkan masalah bukan
terpecahnya masalah
2. Lebih mengutamakan sasaran perasaan dari pada intelek
3. Masa kini lebih banyak diperhatikakn dari pada masa lalu
4. Pertumbuhan emosional terjadi dalam hubungan konseling
5. Proses terapi merupakan penyerasian antara gambaran diri klien dengan
keadaan dan pengalaman diri yang sesungguhnya
6. Hubungan konselor dank lien merupakan situasi pengalaman terapetik
yang berkembang menuju kepada kepribadian klien yang integral dan
mandiri.
7. Klien memegang peranan aktif dalam konseling sedangkan konselor
bersifat pasif.


  • Tekhnik terapi Client- Centered


  Secara garis besar tekhnik terapi Client- Centered yakni:
a) Konselor menciptakan suasana komunikasi antar pribadi yang
merealisasikan segala kondisi.
b) Konselor menjadi seorang pendengar yang sabar dan peka, yang
menyakinkan konseli dia diterima dan dipahami.
c) Konselor memungkinkan konseli untuk mengungkapkan seluruh
perasaannya secara jujur, lebih memahami diri sendiri dan
mengembangkan suatu tujuan perubahan dalam diri sendiri dan
perilakunya

Kamis, 24 Maret 2016

holistik




holistik diambil dari kata whole (menyeluruh) atau dari pandangan holisme (dari bahasa yunani holos, yang artinya semua keseluruhan, total) yaitu suatu pandangan bahwa semuanya disistem alam semesta ini (system fisik, biologis, kimia , social, ekonomi, mental, bahasa,dll) tidak bisa ditentukan atau dijelaskan secara bagian-bagian terpisah saja, tetapi dijelaskan secara keseluruhan.

Sejarah holistik 
Holistik dimulai sebelum istilah holism diperkenalkan oleh Jan Cristiaan Smuts dalam bukunya “Holism and Evoluation”. Holisme saat ini berkembang dalam istilah holistik, yang mengkombinasikan penyembuhan, seni , dan ilmu hidup. Holistik popular dengan cepat ditahun 70-an. Saat ini, penyembuhan holistic sangat dikenal sebagai pendekatan terbaik untuk menyeimbangkan kehidupan dan kesehatan seseorang dengan cara menyatukan aspek fisik, mental, dan spiritualnya sebagai manusia yang utuh.

Contoh praktis holistik adalah 
- Socrates, yang hidup 4 abad sebelum kelahiran kristus. Ia menganut pandangan ini dan mengajarkan bahwa kita harus memandang tubuh sebagai keseluruhan, bukannya bagian yang terpisah.
 - Plato juga mendukung pandangan holistik, menyarankan para dokter bahwa menghormati hubungan antara pikiran dan tubuh adalah sangat penting bagi kesehatan.
Disiplin ilmu holistik terbagi dua , yaitu:


  •   Holistik tradisional

Suatu teknik penyembuhan yang memanfaatkan alam dengan prinsip holisme. Yang termasuk holistik tradisional adalah akupuntur, akupresur, herbal, ayurveda, uropathy, pranic healing, apitherapy dan lain-lain. Gelar para praktisinya bermacam-macam. Ada yang disebut sebagai tabib, sin-se, dukun, dan lain-lain.



  •         Holistik modern

Suatu teknik penyembuhan yang menghubungkan penyembuhan tradisional/kuno dengan teknologi dan sains modern yang memanfaatkan psinsip holism. Yang termasuk ke dalam holistik modern adalah homeopathy, osteopathy, ananopathy, psikologi hipnotis, naturopathy modern, dan lain-lain, gelar praktisinya bermacam-macam sesuai dengan aliran/disiplin ilmunya. Untuk homeopathy, praktisinya disebut sebagai homeopath. Osteopathy, praktisinya disebut sebagai osteopath atau DO (Doctor of Osteopathy) dibelakang nama. Naturopathy, praktisnya disebut sebagai naturopathy atau DN (Doctor of Naturopathy) dibelakang nama. Ananopathy, praktisinya disebut sebagai ananopath (syukur bukan psikopat) atau Dt (Danton) diawal nama.

Perlu diketahui bahwa tidak semua alternative adalah holistik. Jika suatu pengobatan alternatif tidak memandang permasalahan kesehatan sercara menyeluruh, pengobatan tersebut berarti bukan pengobatan holistik.

 sumber :
                http://npid-pass.com/artikel-kesehatan/apa-itu-holistik/

Kamis, 17 Maret 2016

Psikologi Transpersonal



McWaters (1975) sebagai salah satu tokoh psikologi Transpersonal dalam tulisannya : lebih suatu mimpi bagi psikologi, bahwa ternyata konsep tentang psikologi transpersonal, yang konsep awalnya hanya merupakan ide-ide lepas, yang dikumpulkan dari berbagai ide ke dalam tipologi baru dari domain psikologi, ternyata bisa merubah pandangan kita tentang manusia secara revolusioner. McWaters memulai dengan pengamatan bahwa banyak para psikolog transpersonal akan mengakui bahwa banyak psikolog transpersonal akan mengakui bahwa ada banyak pengalaman manusia yang dapat kita catat, tidak hanya merupakan pengalaman empiris, indrawi atau kognitif- logic, tapi lebih dari itu, yaitu pengalaman batin (spiritual). Mereka membawa realitas spiritual ini termasuk dalam bagian dalam domain psikologi. Ini memperluas isi dari psikologi, terutama lapangan psikologi pendidikan.
Psikologi transpersonal, yang sekarang diperkenalkan sebagai madzahab keempat dalam lapangan psikologi, memulai khususnya ditingkat universitasnya, juga menjalar didunia pendidikan. Tahun 1969, jurnal psikologi transpersonal diterbitkan. Tahun 1973, perkumpulan psikologi transpersonal pertama mengadakan konferensi di Meulo park, California (Waters, 1990). Pada tahun yang sama juga diadakan konferensi psikologi transpersonal dan pendidikan, diuniversitas Northerm, Illionis, banyak para pendidik tertarik tentang psikologi transpersonal, yang berasal dari berbagai Negara.




Definisi Psikologi Transpersonal

Noesjirwan (2000) mendefinisikan psikologi Transpersonal diartikan sebagai suatu studi terhadap potensi tertinggi umat manusia dan dengan pengakuan, pemahaman dan perealisasian keadaan kesadaran-kesadaran yang mempersatukan antara spiritual dan transenden.
Sutich (dalam Noesjirwan, 2000)  mangartikan psikologi transpersonal adalah nama yang diberikan kepada kekuatan yang baru timbul dalam bidang psikologi, dibentuk oleh sejumlah psikolog, ahli-ahli pria dan wanita dari sejumlah bidang lain yang mempunyai perhatian terhadap kemampuan-kemampuan dan kesanggupan kesanggupan tertinggi manusia yang selama ini tidak dipelajari secara sistematis oleh psikologi prilaku atau teori-teori psikoanalisis yang klasik maupun oleh psikologi humanistik.
Psikologi transpersonal secara khusus memberikan perhatian kepada studi ilmiah yang empiris dan kepada implementasi yang bertanggung jawab dari penemuan-penemuan yang relavan bagi pengaktualisasian diri, transedentasi diri, kesadaran kosmis, fenomena-fenomena transcendental yang terjadi pada (yang dialami oleh) perorangan-perorangan atau sekelompok orang.

Noesjirwan (2000) menyebutkan obyek psikologi transpersonal sedikit memuat antara lain :

1. Keadaan dan kesadaran
2. Potensi-potensi tertinggi dan terakhir
3. Melewati ego atau pribadi (trans-ego)
4. Transedensi
5. Spiritual



Pandangan psikologi transpersonal dan pengaruh pada psikoterapi

banyak psikoterapi Barat (termasuk psikonalisasi, dan aliran behavior) telah membuang dimensi transpersonal ke fantasi atau psikosis, yang sekarang dirasa kurangtepat dan ternyata dengan metode penyembuhan dan metode pengembangan diri yang lebih memakai transpersonal gejala gejala yang dulu dianggap fantasi atau gejala psikosis, terpecahkan dan mempunyai aktualisasi diri yang lebih baik. Sebenarnya aliran ini sudah berkembang atau setidaknya disinggung misalnya oleh William James dan tokoh-tokoh lainnya hanya karena pengaruh pengetahuan alam lintasan fenomena itu tidak mendapat porsi pembahasanyang memadai.

Carl Jung, yang dapat dipanggil sebagai bapak psikologi transpersonal, membuat kerangka kerja dari pribadi yang terbatas dan dikenalkan dalam lapangan psikologi tentang konsep archetype dan ketaksadaran kolektif, yang merupakan wilayah pembicaraan, yang menunjuk pada dunia transpersonal. Dimensi transpersonal ini, menunjuk pada pengalaman manusia yang merupakan realitas progresif dari kesatuan yang esensial dari kehidupan. Kenyataan sekarang yang merupakan pengaruh baik langsung maupun tak langsung terhadap kehadiran psikologi transpersonal pada umumnya maupun pandangan McWares pada khususnya adalah semakin banyaknya tema-tema yang dikaji dalam psikologi yang khas manusiawi dan spiritualis sifatnya adalah cinta, religiusitas, nilai yang lebih tinggi yang membimbing manusia menjalani hidup, hati nurani, makna hidup,pengalaman transenden, dan kesehatan psikologis yang berdasarkan
pada nilai-nilai spiritual.



Mujidin, (2005). Garis Besar Psikologi Transpersonal Pandangan Tentang Manusia dan Metode Penggalian Transpersonal serta Aplikasinya dalam Dunia Pendidikan. Jurnal psikologi, 2 (1), 54-56.    
Back to top