Selasa, 13 Oktober 2015

Tugas 2 Mempengaruhi Perilaku



TUGAS II
MEMPENGARUHI PERILAKU

Psikologi Manajemen

Dosen Pengampu
Ade Irma Suryani

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/1/19/Logo_Gunadarma.jpg/220px-Logo_Gunadarma.jpg


Disusun Oleh Kelompok Melati

Ade Nurul Oktaviana (10513148)
Jojor Lamria (14513665)
Mariska Wisnu Dwipratiwi (15513298)
Widya Anissa Wiranti (19513264)
Yulia Wirantri Farhani (19513549)

Kelas
3PA02







 PENDAHULUAN 


Pengaruh menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah daya yang ada dan timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuataan seseorang. Dari pengertian di atas telah dikemukakan sebelumnya bahwa pengaruh adalah merupakan sesuatu daya yang dapat membentuk atau mengubah sesuatu yang lain.
Sikap adalah keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya.
Perilaku adalah keadaan jiwa untuk berpendapat, berfikir, bersikap, dan lain sebagainya yang merupakan refleksi dari berbagai macam aspek, baik fisik maupun non fisik.
Perubahan perilaku adalah penerapan yang terencana dan sistematis dari prinsip belajar yang telah ditetapkan untuk mengubah perilaku mal adaptif (Fisher & Gochros, 1975).


Definisi Pengaruh
Pengertian dan definisi pengaruh menurut para ahli :
Ø  Wiryanto: Pengaruh merupakan tokoh formal mauoun informal di dalam masyarakat, mempunyai ciri lebih kosmopolitan, inovatif, kompeten, dan aksesibel dibanding pihak yang dipengaruhi.
Ø  Uwe Becker: Pengaruh adalah kemampuan yang terus berkembang yang - berbeda dengan kekuasaan - tidak begitu terkait dengan usaha memperjuangkan dan memaksakan kepentingan (involed is formatif vermogen dat - in tegens telling tot macht - niet direct verbonden is met strijd en de doorzetting van belangen).
Ø  Norman Barry: Pengaruh adalah suatu tipe kekuasaan yang jika seorang yang dipengaruhi agar bertindak dengan cara tertentu, dapat dikatakan terdorong untuk bertindak demikian, sekalipun ancaman sanksi yang terbuka tidak merupakan motivasi yang mendorongnya (influence is a type of power in that a person who is influenced to act in a certain way may be said to be caused so to act, even though an overt threat of santions will not be the motivating force)..
Ø  Bertram Johannes Otto Schrieke: Pengaruh merupakan bentuk dari kekuasaan yang tidak dapat diukur kepastiannya.
Ø  Albert R. Roberts & Gilbert: Pengaruh adalah wajah kekuasaan yang diperoleh oleh orang ketika mereka tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan.

Kunci-Kunci Perubahan Perilaku
Perubahan perilaku adalah penerapan yang terencana dan sistematis dari prinsip belajar yang telah ditetapkan untuk mengubah perilaku mal adaptif (Fisher & Gochros, 1975)
Karakteristik perubahan perilaku :
l  Fokus kepada perilaku (prosedur perubahan perilaku dirancang untuk merubah perilaku bukan merubah karakter atau sifat seseorang). Perilaku yang dirubah disebut target perilaku meliputi perilaku yang berlebihan atau perilaku yang tidak/kurang dimiliki oleh orang
l  Prosedurnya didasarkan kepada prinsip-prinsip behavioral. Perubahan perilaku adalah penerapan prinsip-prinsip dasar yang awalnya berasal dari penelitian eksperimental dengan binatang dilaboratorium (Skiner, 1938).
l  Penekanannya kepada peristiwa-peristiwa didalam lingkungan. Perubahan perilaku meliputi asesmen dan perubahan peristiwa-peristiwa lingkungan yang mempunyai hubungan fungsional dengan perilaku
l  Treatment dilakukan oleh orang didalam kehidupan sehari-hari (Kazdin, 1994). Perubahan perilaku akan lebih efektif  apabila dikembangkan oleh orang-orang yang berada dilingkungan individu yang perilakunya menjadi target perubahan seperti guru, orangtua atau orang lain yang dilatih tentang perubahan perilaku
l  Pengukuran perubahan perilaku. Melakukan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi dilakukan untuk melihat perubahan perilaku. Asesmen terus dilakukan setelah intervensi untuk melihat apakah perubahan perilaku yang sudah terjadi dapat terjaga.
l  Mengabaikan peristiwa-peristiwa masa lalu sebagai penyebab perilaku. Penekanan perubahan perilaku kepada peristiwa-peristiwa lingkungan saat ini yang menjadi penyebab perilaku sebagai dasar pemilihan intervensi perubahan perilaku yang tepat.
l  Menolak hipotetis yang mendasari penyebab perilaku. Skiner (1974) menjelaskan bahwa dugaan terhadap penyebab yang mendasari perilaku tidak pernah dapat diukur atau dimanipulasi untuk menunjukkan hubungan fungsional perilaku.

Model mempengaruhi orang lain

Cara mempengaruhi orang lain dengan dasar Pendekatan komunikasi persuasi dikemukakan oleh Aristotle yang menyatakan terdapat 3 pendekatan dasar dalam komunikasi yang mampu mempengaruhi orang lain, yaitu;
1.    Logical argument (logos), yaitu penyampaian ajakan menggunakan argumentasi data-data yang ditemukan. Hal ini telah disinggung dalam komponen data.
2.   Psychological/ emotional argument (pathos), yaitu penyampaian ajakan menggunakan efek emosi positif maupun negatif. Misalnya, iklan yang menyenangkan, lucu dan membuat kita berempati termasuk menggunakan pendekatan psychological argument dengan efek emosi yang positif. Sedangkan iklan yang menjemukan, memuakkan bahkan membuat kita marah termasuk pendekatan psychological argument dengan efek emosi negatif.
3.   Argument based on credibility (ethos), yaitu ajakan atau arahan yang dituruti oleh komunikate/ audience karena komunikator mempunyai kredibilitas sebagai pakar dalam bidangnya. Contoh, kita menuruti nasehat medis dari dokter, kita mematuhi ajakan dari seorang pemuka agama, kita menelan mentah-mentah begitu saja kuliah dari dosen. Hal ini semata-mata karena kita mempercayai kepakaran seseorang dalam bidangnya.

Menurut Burgon & Huffner (2002), terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan agar komunikasi persuasi menjadi lebih efektif. Maksudnya lebih efektif yaitu agar lebih berkesan dalam mempengaruhi orang lain. Beberapa pendekatan itu antaranya;
1.    Pendekatan berdasarkan bukti, yaitu mengungkapkan data atau fakta yang terjadi sebaga bukti argumentatif agar berkesan lebih kuat terhadap ajakan.
2.   Pendekatan berdasarkan ketakutan, yaitu menggunakan fenomena yang menakutkan bagi audience atau komunikate dengan tujuan mengajak mereka menuruti pesan yang diberikan komunikator. Misalnya, bila terjadi kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah maka pemerintah dengan pendekatan ketakutan dapat mempersuasi masyarakat untuk mencegah DBD.
3.   Pendekatan berdasarkan humor, yaitu menggunakan humor atau fantasi yang bersifat lucu dengan tujuan memudahkan masyarakat mengingat pesan karena mempunyai efek emosi yang positif. Contoh, iklan-iklan yang menggunakan bintang comedian atau menggunakan humor yang melekat di hati masyarakat.
4.   Pendekatan berdasarkan diksi, yaitu menggunakan pilihan kata yang mudah diingat (memorable) oleh audience/komunikate dengan tujuan membuat efek emosi positif atau negative.

Wewenang
Wewenang adalah suatu bentuk kekuasaan, sering kali dipergunakan secara lebih luas untuk merujuk kemampuan manusia menggunakan kekuasaan sebagai hasil dari ciri-ciri seperti pengetahuan atau gelar seperti hakim. Terutama, wewenang formal adalah kekuasaan sah. Wewenang formal adalah tipe kekuasaan yang kita hubungkan dengan struktur organisasidan manajemen. Kekuasaan itu berdasarkan pengakuan keabsahan usaha manajer untuk menggunakan pengaruh.

Jenis Wewenang :
a) Wewenang Lini (line authority)
Wewenang lini adalah wewenang manajer yang bertanggu jawab langsung, di seluruh rantai komando organisasi, untuk mencapai sasaran organisasi. Wewenang lini diwujudkan dengan rantai komando standar, mulai dari dewan direktur sampai tempat aktivitas dasar organisasi dilaksanakan. Wewenang lini terutama didasarkan pada kekuasaan sah.Misalnya, manajer perusahaan manufaktur mungkin membatasi fungsi lini pada produksi dan penjualan, sedangkan manajer di departement store, dengan elemen kunci adalah pembelian,akan mempertimbangkan departemen pembelian dan departemen penjualan sebagai aktivitas lini. Kalau sebuah perusahaan kecil, semua posisi mungkin mempunyai posisi lini.
b) Wewenang Staf (staff authority)
Wewenang staf adalah kelompok individu yang menyediakan saran dan jasa kepada manajer lini. Staf memberikan berbagai tipe bantuan pakar dan saran kepada manajer.Wewenang staf terutama didasarkan pada kekuasaan keahlian. Staf dapat menawarkan manajer lini saran perencanaan lewat penelitian, analisis, dan pengembangan pilihan. Staf dapat juga membantu dalam implementasi kebijakan, memonitor, dan kendali; dalam masalah legal dan keuangan; dan dalam desain dan operasi sistem pemrosesan data.Misalnya, rekan dalam banyak kantor pengacara menambah anggota staf untuk melaksanakan“sisi bisnis” dari kantor tersebut. Kehadiran dari spesialis ini membebaskan pengacara untuk mempraktekan ilmu hukum, fungsi lini mereka.


Daftar Pustaka
Cholisin, M. Si dkk. 2006. Dasar-dasarIlmuPolitik. Yogyakarta : FISE UNY
Nasikun. (1993). Sistem Sosial Indonesia, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Munandar, A.S. 2001. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia
Sarwono, S. W. (2005). Psikologi Sosial: Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan. Jakarta: Balai Pustaka



Selasa, 06 Oktober 2015

Tugas 1 Komunikasi Psikologi Manajemen



TUGAS I
KOMUNIKASI

Psikologi Manajemen

Dosen Pengampu
Ade Irma Suryani
 
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/1/19/Logo_Gunadarma.jpg/220px-Logo_Gunadarma.jpg

Disusun Oleh Kelompok Melati

Ade Nurul Oktaviana (10513148)
Jojor Lamria (14513665)
Mariska Wisnu Dwipratiwi (15513298)
Widya Anissa Wiranti (19513264)
Yulia Wirantri Farhani (19513549)

Kelas
3PA02



PENDAHULUAN

Komunikasi adalah proses pengiriman dan penerimaan informasi atau pesan antara dua orang atau lebih dengan cara yang efektif, sehingga pesan yang dimaksud dapat dimengerti. Dalam penyampaian atau penerimaan informasi ada dua pihak yang terlibat, yaitu :
²  Komunikator : Orang atau kelompok orang yang menyampaikan informasi atau pesan
²  Komunikan : Orang atau kelompok orang yang menerima pesan.
Dalam berkomunikasi keberhasilan komunikator atau komunikan sangat ditentukan oleh beberapa faktor yaitu : Cakap, Pengetahuan, Sikap, Sistem Sosial, Kondisi lahiriah.
Alasan mendasar bahwa setiap manusia melakukan komunikasi dengan mahluk lainnya yaitu manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri atau mahluk yang selalu hidup bermasyarakat. Sebagai mahluk sosial manusia selalu berhubungan dengan orang lain untuk melakukan banyak hal. Walaupun demikian, komunikasi akan berjalan secara lancar apabila :
²  Adanya Stimulus/Rangsangan : aksi untuk melakukan
²  Adanya Respon/Reaksi untuk melakukan komunikasi
²  Informasi dapat disampaikan dengan jelas dan mendapat jawaban yang jelas



PEMBAHASAN

  1. Definisi Komunikasi
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgF5oOJA3VEDZB0REp1nOR3YJpd-52Ek-96Jh1vAaMm6J_c7wscMk-5VWCq8NxcEtbERVdS7BOccxIgND7V6cVY-_Rz_qKyN8mWsEv1G-c6kv4DMSZvB6Vo35iZOMEYjl2d1De1MdP3j5c/s1600/proses+komunikasi.jpg
Komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu "communicatio", yang beristilah "communis", yang berarti menciptakan kebersamaan antara dua orang atau lebih. Adapun definisi komunikasi menurut para tokoh, antara lain :
²  Menurut Everett M. Rogers, Mengemukakan pendapatnya yaitu Komunikasi adalah suatu proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerimaan atau lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.
²  Menurut Rogers & O. Lawrence Kincaid (1981), Komunikasi merupakan suatu interaksi dimana terdapat dua orang atau lebih yang sedang membangun atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lain yang pada akhirnya akan tiba dimana mereka saling memahami dan mengerti.
²  Menurut Shannon & Weaver (1949), Komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau tidak sengaja. Tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni, dan teknologi.
²  Menurut Onong Uchjana Effendy, Berpendapat bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang kepada orang lain. Pikiran tersebut  bisa merupakan informasi, gagasan, opini, dan lain-lain yang muncul dari pikirannya sendiri.
²  Menurut David K. Berlo (1965), Komunikasi sebagai instrumen dari interaksi sosial berguna untuk mengetahui dan memprediksi setiap orang lain, juga untuk mengetahui keberadaan diri sendiri dalam memciptakan keseimbangan dengan masyarakat.
²  Menurut Theodore M. Newcomb, Setiap bentuk komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasi, yang terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari sumber untuk penerima. 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqLFdXN9juSwOR4jDILWvoTFJIZBNFCW9uXzJbGOFdsRjtkJkWjQnjt62vbKvUPH5MRRWaYo8hoSlmPLjLMz_7L99K6qLKlMD80NV-Y_w-pImC04p1EvfIo1ppb-qFGttXpApUARIt0Kw/s1600/Bentuk-Dasar-Komunikasi.png
       Dari definisi di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa komunikasi merupakan suatu proses penyampaian pesan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih berupa pesan informasi, ide, emosi, keterampilan dan sebagainya melalui simbol atau lambang yang dapat menimbulkan efek berupa tingkah laku yang dilakukan dengan media-media tertentu dengan maksud agar komunikator dan komunikan saling memahami maksud dan tujuan dari informasi yang diberikan.

  1. Dimensi-Dimensi Komunikasi
Dimensi komunikasi terdiri dari :

Jumat, 29 Mei 2015

HUBUNGAN ANTARA KESEHATAN MENTAL DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL

Kesehatan mental


Kesehatan mental, berasal dari dua kata, yakni “kesehatan” dan “mental”. Kesehatan berasal dari kata “sehat”, yang merujuk pada kondisi fisik. Individu yang sehat adalah individu yang berada dalam kondisi fisik yang baik, dan bebas dari penyakit. Sedangkan “mental” adalah kepribadian yang merupakan kebulatan dinamik yang tercermin dalam cita-cita, sikap, dan perbuatan. Mental adalah semua unsur-unsur jiwa termasuk pikiran, emosi, sikap, dan perasaan yang dalam keseluruhan atau kebulatannya akan menentukan tingkah laku, cara menghadapi suatu hal yang menekan perasaan, mengecewakan, atau yang menggembirakan dan menyenangkan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan mental sebagai, "suatu keadaan kesejahteraan dimana individu menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan yang normal dari kehidupan, dapat bekerja secara produktif dan baik, dan mampu memberikan kontribusi bagi dirinya sendiri dan masyarakat.


Kecerdasan emosional


  • Menurut Goleman (dalam Melianawati, Prihanto, dan Tjahjoanggoro, 2001)kecerdasan emosional adalah kecakapan emosional yang meliputi kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dan memiliki daya tahan ketika menghadapi rintangan, mampu mengendalikan impuls dan tidak cepat merasa puas, mampu mengatur suasana hati dan mampu mengelola kecemasan agar tidak mengganggu kemampuan berpikir, mampu  berempati serta berharap

  • Cooper dan Sawaf (dalam Melianawati, Prihanto, dan Tjahjoanggoro, 2001) berpendapat bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energy, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi. Karena orang yang sehat biasanya mampu mengenal emosi yang dialaminya dan dapat mengekspresikan sesuai dengan aturan yang berlaku di lingkungannya (Martani, dalam Armiyanti, 2008). 

  • Reuven Bar-On (dalam Armiyanti, 2008) menyatakan bahwa kecerdasaan emosional adalah serangkaian kemampuan, kompetensi, dan kecakapan non- kognitif, yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan.
  • Sedangkan menurut Patton (2000) kecerdasan emosi adalah dasar-dasar pembentukan emosi yang mencakup keterampilan- keterampilan seseorang untuk mengadakan impuls-impuls dan menyalurkan emosi yang kuat secara efektif.


Hubungan antara kesehatan mental dengan kecerdasan emosional


Ketika seseorang mampu untuk mengendalikan diri, memiliki daya tahanketika menghadapi suatu masalah mampu mengendalikan implus, memotivasi diri, mampu mengatur suasana hati, kemampuan berempati san membina hubungan dengan orang lain, mampu memiliki keyakinan tentangdirinya sendiri, penuh antusias, pandai memilah semuanya dan menggunakan informasi sehingga dapat membimbing pikiran dan tindakan. Ketika hal-hal tersebut dimiliki seseorang makaorang tersebut memiliki kesehatan mental yang tinggi karena ia mampu menerima kekurangan atau kelemahan dirinya dan juga akan memiliki hubungan social yang baik karena ia mampu memantau emosinya sendiri maupun orang lain. Dan juga dia memiliki empati terhadap orang lain.


Daftar pustaka

- Artika Kumala Dewi. 2011. Hubungan antara Kecerdasan emosi dengan Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun Pada Pegawai Negeri Sipil
- Aditiyawarman, I, (2010). Sejarah Perkembangan Gerakan Kesehatan Mental, KOMUNIKA.4 NO.1 Januari-juni. pp.91-110

FENOMENA DEPRESI


Sampai saat ini depresi menjadi salah satu masalah kesehatan mental utama yang mendapatkan perhatian serius. Depresi dicetuskan oleh peristiwa hidup tertentu yang mengakibatkan gangguan kesehatan, ketidaknyamanan, penderitaan, dan kesulitan melaksanakan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Tahun 2020, depresi diperkirakan menempati urutan kedua penyakit didunia. Gejala psikomotor, dan gangguan vegetatif. Salah satu gejala depresi yang muncul adalah gangguan tidur yang bisa berupa insomnia, bangun secara tiba-tiba, dan hipersomia. Hal ini disebabkan oleh gangguan neurotransmitter dan reguasi hormon. Selain sebagai gejala depresi, gangguan tidur juga bisa merupakan penyebab depresi. Beberapa penelitian memberikan hubungan gangguan tidur dapat meningkatkan resiko depresi dikemudian hari.


DEFINISI DEPRESI

Depresi merupakan salah satu masalah kesehatan mental utama saat ini, yang mendapatkan perhatian serius. Orang yang mengalami depresi umumnya mengalami gangguan yang meliputi keadaan emosi, motivasi, fungsio- nal, dan tingkah laku serta kognisi bercirikan ketidakberdayaan yang berlebihan. Depresi dapat terjadi pada anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Orang yang mengalami depresi akan memunculkan emosi-emosi yang negatif seperti rasa sedih, benci, iri, putus asa, kecemasan, ketakutan, dendam dan memiliki rasa bersalah yang dapat disertai dengan berbagai gejala fisik.
 Gangguan depresi pada umumnya dicetuskan oleh peristiwa hidup tertentu. Namun,  setiap orang mempunyai perbedaan yang mendasar yang memungkinkan suatu peristiwa yang dihadapi secara berbeda, dapat memunculkan reaksi yang berbeda antara satu orang dengan yang lain.


GEJALA DEPRESI
  • Gangguan emosi : perasaan sedih atau murung, iritabilitas, ansietas, ikatan emosi burkurang menarik diri dari hubungan intrapersonal


  • Gangguan kognitif : distorsi kognitif seperti mengritik diri sendiri, rasa bersalah, perasaan tak berharga, kepercayaan diri turun, pesimis, dan putus asa. Penurunan fungsi kognitif seperti bingung, 


  • konsentrasi buruk, perhatian kurang, daya ingat menurun. Dan sering ragu-ragu.
  • Keluhan somatik : sakit kepala, keluhan saluran pencernaan, keluhan haid, dan lain-lain.


  • Gangguan psikomotorik : retardasi psikomotor, gerakan lambat, pembicaraan lambat, malas, dan merasa tidak bertenaga atau lesu.


  • Gangguan vegetatif : tidak bisa tidur atau terlalu banyak tidur, tidak ada nafsu makan atau terlalu banyak makan, penurunan berat badan atau penambahan berat badan, gangguan fungsi seksual.




PENYEBAB DEPRESI

salah satu yang terkuat adalah stres. Sementara stress dapat terjadi pada semua usia, ada data yang menunjukkan bahwa dewasa awal adalah masa kerentanan khusus untuk mengalami kegelisahan dan depresi, mungkin karena tuntutan atau mengalami kesulitan dalam fungsi sosial, pekerjaan dan kehidupan sehari-hari
Faktor penyebab dari depresi yaitu : -faktor biologis,.
                                                           -faktor genetika
          -dan faktor psikososial


CARA MENGATASI DEPRESI

  • mengatasi gangguan depresi yaitu dengan membangun hidup yang menyenangkan dengan cara pengungkapan diri yang bertujuan agar kedua subyek dapat mengenali dan mengoptimalkan kekuatan-kekuatan positif yang dimilikinya serta mampu memaknai segala apapun yang dialaminya secara positif.


  • Selanjutnya, pada aspek kedua membangun hidup yang penuh aktivitas dengan cara menuliskan biografi dan surat kepada orang yang dianggap  berarti dalam hidup subyek. Hal tersebut ber- tujuan agar kedua subyek dapat mengetahui emosi positif dan emosi negatif dalam kehidu- pannya, sehingga dapat mencegah munculnya emosi negatif dengan menyibukkan dirinya mengembangkan emosi positif dan potensi dirinya sekaligus berusaha menjalin hubungan interpersonal dengan lingkungan sosial secara aktif.


  • Aspek yang terakhir yaitu membangun hidup yang bermakna, kedua subyek diharapkan mampu memahami seluruh hal yang terjadi pada dirinya dengan cara berfokus menyikapi berbagai masalah yang ada secara positif sehingga dapat mengatasi permasalahan secara mandiri dan keberadaannya bermanfaat bagi orang lain.



DAFTAR PUSTAKA:

- Swesty Nilasari. Positive psychotherapy untuk menurunkan tingkat depresi. 2013 Magister Psikologi UMM, ISSN: 2303-2936 Volume I (2), 179 – 189.
- Amir N. Aspek Neurobiologi Molekuler Depresi. JIWA.2004;XXXVII:2
- Wyn Eko Radityo (Fakultas Kedokteran Universitas Udayana). Jurnal Depresi Dan Gangguan Tidur.

Minggu, 29 Maret 2015

KESEHATAN MENTAL

Seperti kesehatan fisik, kesehatan mental merupakan aspek yang sangat penting bagi setiap fase kehidupan manusia. Kesehatan mental terkadang mengalami siklus baik dan buruk. Setiap orang, dalam hidupnya mengalami kedua sisi tersebut. Kadang mentalnya sehat, terkadang sebaliknya. Pada saat mengalami masalah kesehatan mental, seseorang membutuhkan pertolongan orang lain untuk mengatasi masalah yang dihadapinya. Kesalahan mental dapat memberikan dampak terhadap kehidupan sehari-hari atau masa depan seseorang, termasuk anak-anak dan remaja. Merawat dan melindungi keshatan mental anak-anak merupakan aspek yang sangat penting, yang dapat membantu perkembangan anak yang lebih baik di masa depan.
·    

             Sejarah kesehatan mental
1.      
          Masa Animisme
Sejak zaman dulu, sikap terhadap gangguan kepribadian atau mental telah muncul dalam konsep primitif animisme. Ada kepercayaan bahwa dunia ini diawasi atau dikuasai oleh roh-roh atau dewa-dewa. Orang primitif percaya bahwa angin bertiup, ombak mengalun, batu berguling, dan pohon tumbuh karena pengaruh roh yang tinggal dalam benda-benda tersebut. Orang Yunani percaya bahwa gangguan mental terjadi karena dewa marah dan membawa pergi jiwanya. Untuk menghindari kemarahannya, maka mereka mengadakan perjamuan pesta (sesaji) dengan mantra dari korban3yang mereka persembahkan. Praktik-praktik semacam tersebut berlangsung mulai dari abad 7-5 SM. Setelah kemunculan naturalisme, maka praktik semacam itupun kian berkurang, walaupun kepercayaan tentang penyakit mental tersebut berasal dari roh-roh jahat tetap bertahan sampai abad pertengahan.

2.      Kemunculan Naturalisme
Perubahan sikap terhadap tradisi animisme terjadi pada zaman Hipocrates (460-467). Dia dan pengikutnya mengembangkan pandangan revolusioner dalam pengobatan, yaitu dengan menggunakan pendekatan ”Naturalisme”. Aliran ini berpendapat bahwa gangguan mentalatau fisik merupakan akibat dari alam. Hipocrates menolak pengaruh roh, dewa, setan atau hantu sebagai penyebab sakit. Dia menyatakan: ”Jika Anda memotong batok kepala, maka Anda akan menemukan otak yang basah, dan memicu bau yang amis, tetapi Anda tidak akan melihat roh, dewa atau hantu yang melukai badan Anda.” Ide naturalistik ini kemudian dikembangkan oleh Galen, seorang tabib dalam lapangan pekerjaan pemeriksaan atau pembedahan hewan. Dalam perkembangan selanjutnya, pendekatan naturalistik ini tidak dipergunakan lagi di kalangan orang-orang Kristen. Seorang dokter Perancis, Philipe Pinel(1745-1826) menggunakan filasafat politik dan sosial yang baru untuk memecahkan problem penyakit mental. Dia telah terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, para pasiennya (yang maniak) dirantai, diikat di tembok dan di tempat tidur. Para pasien yang telah dirantai selama 20 tahun atau lebih karena dipandang sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Akhirnya, di antara mereka banyak yang berhasil. Mereka tidak lagi menunjukkan kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya sendiri.


KESEHATAN MENTAL ERA MODERN
Perubahan yang sangat berarti dalam sikap dan pengobatan gangguan mental, yaitu dari animisme (irrasional) dan tradisional ke sikap dan cara yang rasional (ilmiah), terjadi pada saat berkembangnya psikologi abnormal dan psikiatri di Amerika Serikat, yaitu pada tahun 1783. Ketika itu, Benyamin Rush (1745-1813) menjadi anggota staff medis di rumah sakit Pensylvania. Di rumah sakit ini, ada 24 pasien yang dianggap sebagai lunatics(orang-orang gila atau sakit ingatan). Pada waktu itu, sedikit sekali pengetahuan tentang penyakit kegilaan tersebut, dan kurang mengetahui cara menyembuhkannya. Sebagai akibatnya, pasien-pasien tersebut didukung dalam sel yang kurang sekali alat ventilasinya, dan mereka sekali-sekali diguyur dengan air. Rush melakukan usaha yang sangat berguna untuk memahami orang-orang yang menderita gangguan mental tersebut. Cara yang ditempuhnya adalah dengan melalui penulisan artikel-artikel dalam koran, ceramah, dan pertemuan-pertemuan lainnya.

Akhirnya, setelah usaha itu dilakukan (selama 13tahun), yaitu pada tahun 1796, di rumah mental, ruangan ini dibedakan untuk pasien wanita dan pria. Secara berkesenimbungan, Rush mengadakan pengobatan kepada para pasien dengan memberikan dorongan (motivasi) untuk mau bekerja, rekreasi, dan mencari kesenangan. Perkembangan psikologi abnormal dan pskiatri ini memberikan pengaruh kepada lahirnya ”mental hygiene” yang berkembang menjadi suatu ”Body of Knowledge”beserta gerakan-gerakan yang terorganisir. Perkembangan kesehatan mental dipengaruhi oleh gagasan, pemikiran dan inspirasi para ahli, terutama dari dua tokoh perintis, yaitu Dorothea Lynde Dixdan Clifford Whittingham Beers. Kedua orang ini banyak mendedikasikan hidupnya dalam bidang pencegahan gangguan mental dan pertolongan bagi orang-orang miskin dan lemah. Dorthea Lynde Dix lahir pada tahun 1802 dan meninggal dunia tanggal 17 Juli 1887. Dia adalah seorang guru sekolah di Massachussets, yang menaruh perhatian terhadap orang-orang yang mengalami gangguan mental. Sebagian perintis (pioneer), selama 40 tahun, dia berjuang untuk memberikan pengorbanan terhadap orang-orang gila secara lebih manusiawi.


·       Konsep kesehatan mental

Adanya penelitian yang menggali dan terkait dengan konsep sehat dan sakit dalam aplikasi yang luas ternyata bukan sekedar menyangkutkondisi berdasarkan pengukuran biomedis. Secara sederhana ada konsep disease yang dimaksud sebagai adanya gangguan atau ketidakteraturan pada anatomi tubuh atau fisik. Fakta bahwa sehat dan sakit juga mengarah pada adanya keragaman batasan pada masing-masing individu akibat pengaruh konstruk social dan budaya dalam lingkungannya. Dengan demikian konsep disease menjadi sesuatu yang berbeda dengan illness yang terstruktur oleh budaya, berdasarkan pengalaman perorangan dalam mengartikan dan mengalami kondisi tidaknyaman tubuhnya. Ada orang atau masyarakat yang membatasi pada pengalaman somatic, yang lain pada disfungsi mental, dan pada gilirannya aspek social, emosional dan kognitif menjadi aspek-aspek yang tidak terpisahkan bahkan saling tumpang tindih . ini bisa menjadi kritik utama atas dikotomi disease-illness, yaitu adanya kondisi dikotomi tubuh-pikiran yang tidak tersentuh oleh bidang biomedis. Disease berakar pada kondisi sakit tubuh sehingga dianggap bersifat riil, kongkret, ilmiah dan obyektif, ,sebaliknya illness merupakan sakit yang berakar pada pikiran sehingga dianggap masuk dalam kategori subyektif.

Cara hidup dan gaya hidup manusia merupakan fenomena yang dapat dikaitkan dengan munculnya berbagai macam penyakit, selain itu hasil berbagai kebudayaan juga dapat menimbulkan penyakit. Pada masyarakat dan pengobat tradisional menganut dua konsep penyebab sakit, yaitu naturalistikdan personalistik. Penyebab bersifat naturalistic yaitu seorang menderita sakit akibat pengaruh lingkungan, kebiasaan hidup, ketidakseimbangan dalam tubuh, termasuk juga kepercayaan pada konsep panas-dingin seperti masuk angin dan penyakit bawaan. Dalam perspektif lain sehat bagi seseorang berarti suatu keadaan yang normal, wajar, nyaman , dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan gairah. Sedangkan sakit dianggap sebagai suatu keadaan badan yang kurang menyenangkan, bahkan dirasakan sebagai siksaan sehingga menyebabkan seseorang tidak dapat menjalankan aktivitas sehari-hari seperti halnya orang yang sehat. Sedangkan konsep personalitik menganggap munculnya penyakit (illness) disebabkan oleh intervensi suatu agen aktif yang dapat berupa makhluk manusia (tukang sihir, tukang tunung).
Pernyataan pengetahuan tentang sehat dan sakit dalam perspektif naturalistic antara lain terlihat pada tradisiklasik yunani, india mcina, yang menunjukan model keseimbangan (equilibrum model) seseorang yang dianggap sehat apabila unsure-unsur utama ini tercakup dalam konsep tentang humors, ayurveda, dosha, yin dan yang.
Dengan demikian menjadi sangat jelas bahwa konsep sehat dan sakit sesungguhnya tidak terlalu mutlak dan universal karena ada factor-faktor lain diluar kenyataan klinis yang mempengaruhinya terutama factor social budaya.



·         Perbedaan kesehatan mental barat & timur 

Pendekatan psikologi-psikologi Asia didasarkan pada introspeksi dan pemeriksaan diri sendiri yang menuntut banyak energi, berbeda dengan psikologi-psikologi Barat yang lebih bersandar pada observasi tingkah laku. Setiap kutipan oleh Gardner dan Louis Murphy (1968) dari kitab-kitab suci Asia, memberikan semacam wawasan psikologis, baik suatu pandangan tentang bagaimana jiwa bekerja, suatu teori kepribadian, ataupun suatu model motivasi. Kendati mengakui adanya perbedaan-perbedaan diantara psikologi-psikologi Asia tersebut, namun mereka menyimpulkan bahwa psikologi-psikologi itu pada hakikatnya merupakan suatu reaksi terhadap kehidupan yang dilihat sebagai penuh dengan penderitaan dan kekecewaan.
            
Alan Watts dalam ”Psychotherapy East and West” (1961) mengakui bahwa apa yang disebutnya “cara-cara pembebasan Timur” adalah mirip dengan psikoterapi Barat, yakni bahwa keduanya bertujuan mengubah perasaan-perasaan orang terhadap dirinya sendiri serta hubungannya dengan orang-orang lain dan dunia alam. Sebagian besar terapi-terapi Barat menangani orang- orang yang mengalami gangguan; sedangkan disiplin-disiplin Timur menangani orang-orang yang normal dan memilih penyesuaian sosial yang baik.
            
Robert Ornstein, mempunyai minat terhadap psikologi timur merupakan hasil perkembangan dari penelitiannya tentang fungsi – fungsi berbeda dari masing-masing belahan otak. Ia juga mencata bahwa kebudayaan dan ilmu pengetahuan di Barat lebih menyukai cara pengetahuan belahan kiri dengan akibat merugikan perkembangan belahan kanan.
            
Sebenarnya tidak banyak perbedaan antara konsep kesehatan mental Barat dengan Timur mengingat bahwa konsep kesehatan mental itu sendiri sama dalam referensi mana saja. Mungkin yang paling bisa kita lihat perbedaannya adalah dari segi mana masyarakat Barat menggunakan konsepnya (mereka lebih individualis, memberikan kebebasan bagi setiap individu untuk mengatur taraf kesehatan mentalnya) mengenai kesehatan dan bagaimana dengan masyarakat Timur.


Daftar pustaka

-          Aditiyawarman, I, (2010). Sejarah Perkembangan Gerakan Kesehatan Mental, KOMUNIKA.4 No.1 Januari-Juni. pp.91-110
-          Hidayati Salisa , H, (2011) . Komunikasi Kesehatan : Perlunya Multidisipliner Dalam Ilmu Komunikasi, Jurnal Ilmu Komunikasi .vol. 1, No2   ISSN:2088-981X
-          O’Neill, M., (2010). Cultural attendance and public mental health – from research to practice.Journal of public mental health, 9 issue 4, 22-29.
Back to top